Mana yang Didahulukan : “Ibu atau Suami ?

Pertanyaan:
Tadi saya membaca tentang berbakti pada orangtua. saya seorang ibu dengan 2 anak. umur saya 40 tahun. ibu saya berumur 60 tahun. beliau menginginkan saya untuk bersamanya, yang berarti saya harus meninggalkan suami. apa yang harus saya putuskan? suami sedang dalam masa susah karena kami sedang dalam mati penghidupan dan terlilit hutang. Sekarang ini saya dan anak beserta suami tinggal di rumah ibu suami, mohon nasehatnya.

Jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Telah diketahui bersama bahwa Ta’at kepada orangtua terutama ibu adalah merupakan perintah dan bentuk ketaatan kepada Allah yang paling agung, bahkan Allah menggandengkan ketaatan kepada-Nya dengan berbakti kepada orangtua. Allah Ta’ala berfirman:

{ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا } [النساء: 36]

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak”. QS. An Nisa’: 36.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Allah menginginkan berbuat baik kepada keduanya dengan kelembutan dan tingkah laku yang lemah, maka tidak membantah keras keduanya dalam menjawab, tidak menajamkan pandangan kepada keduanya, tidak mengangkat suara di atas suara mereka berdua, tetapi bersikap di hadapan keduanya seperti seorang budak di hadapan tuannya, merendah di hadapan keduanya”. Lihat kitab Al Az Zawajir ‘an iqtiraf Al Kabair, 2/66.

Dan terkhusus untuk berbuat baik kepada Ibu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menyatakan hal ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang pernah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”, beliau menjawab: “Ibumu”, orang ini bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Kemudian ibumu”, orang ini bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Kemudian ibumu”, orang ini bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Kemudian bapakmu”. HR. Bukhari dan Muslim.

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيكَرِبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ، ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ, يُوصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ ، ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِالأَقْرَبِ فَالأَقْرَبِ »

Artinya: “Al Miqdam bin Ma’di Karib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mewasiatkan kepada untuk berbuat baik kepada ibu-ibu kalian, kemudian mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada ibu-ibu kalian, kemudian mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada bapak-bapak kalian, kemudian mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada kerabat kalian yang paling dekat kemudian seterusnya”. HR. Bukhari di dalam kitab Al Adab Al Mufrad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat al Ahadits Ash Shahihah, no. 1666.

Tetapi…

Jika seorang wanita sudah menikah maka hak suami lebih di dahulukan daripada hak orangtua, mari perhatikan penjelasan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “firman Allah Ta’ala:

{فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ} [النساء: 34]

Artinya: “Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. QS. An Nisa’: 34.

Berkonsekwensi kewajiban taatnya istri terhadap suami secara mutlak, berupa pelayanan, bepergian bersamanya, tinggal bersamanya, dan hal lainnya sebagaimana yang telah ditunjukkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits tentang Al Jabal Al Ahmar dan di dalam hadits tentang sujud dan hadits lainnya.

Sebagaimana wajib bagi seorang wanita taat kepada kedua orangtua, karena sesungguhnya setiap ketaatan kepada kedua orangtua berpindah kepada suami dan tidak tersisa kewajiban atas seorang wanita sebuah ketaatan untuk kedua orang tua, ketaatan kepada orangtua wajib karena hubungan pertalian darah dan kewajiban taat kepada suami wajib karena hubungan yang disebabkan perjanjian.” (Lihat kitab Majmu’ Al Fatawa: 23/260-261).

Beliau juga berkata: “Tidak ada kewajiban atas seorang wanita setelah menunaikan hak Allah dan rasul-Nya lebih wajib dibandingkan menunaikan hak suami”. Lihat kitab Majmu’ Al Fatawa: 23/275.

Saya nasehatkan kepada ibu yang bertanya agar senantiasa mentaati perintah suami tetapi juga jangan sampai mengabaikan sang ibu semampu mungkin, tentunya juga seorang suami tidak diperbolehkan memutuskan hubungan istrinya dengan sang ibu dari istri tersebut, semoga Allah memudahkan kita semua dan mewafatkan ibu dan seluruh orangtua kita di dalam husnul khatimah. Wallahu a’lam.

وصلى الله و سلم و باك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

*) Dijawab oleh Ahmad Zainuddin, Sabtu 8 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

Categories: Keluarga Muslim, Muslimah Corner | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: