sebuah rahasia dari rasa sakit

Bismillah,alhamdulillahi wa sholatu wa salamu ‘ala rosulillah wa ‘ala alihi wa shobihi wa man tabi’ahum bi ihsani ila yaumu ad din….

Saudaraku, kita semua tahu dan meyakini bahwa islam adalah agama yang cocok dengan setiap tempat dan zaman. Ini bukan pengakuan semata tetapi ini adalah fakta yang bisa dilihat dizaman sekarang, ketika banyak penyakit berkembang dan menyebar, meskipun ilmu kedokteran dan pengobatan telah berkembang pesat. Memang di zaman sekarang banyak metode pengobatan di ciptakan, berbagai penemuan baru bermunculan, mulai dari berbagai analisis, penyinaran, operasi bedah, bahkan hingga transplantasi organ tubuh yang sakit dengan organ yang sehat.

Meski adanya kemajuan yang begitu menakjubkan, namun hingga sekarang penyakit-penyakit lebih dominan dari pada harapan, bermacam-macam wabah semakin menghebat, sehingga memupus harapan untuk mengobati, mencegah, atau membatasi penyebarannya. Maha Suci Allah,Sang MahaRaja. Ini ketetapan Allah. Ketentuan Allah pasti terlaksana, tidak ada yang bisa menolak atau mengubah ketentuanNya dan Dia Maha Lembut lagi Maha Kuasa.

Saudara-saudaraku yang ku cintai karena Allah, memang realita membuktikan bahwa persoalan pengobatan saat ini bisa di katakan nyaris kembali kepada islam. Memang pengobatan dengan metode bekam, habbatussauda’, madu dan prinsip-prinsip metode pengobatan Islamy lainnya semakin populer secara internasional. Tetapi siapakah di zaman ini yang mau menasihatkan kepada kaum muslimun agar mereka bergantung kepada Allah terlebih dahulu sebelum kepada terapi fisik dan ahli medis yaitu dengan berdo’a, bertawwakal secara benar kepada Allah, bersedekah dan sebagainya….???

Adapun hukum mengobati penyakit adalah berkisar antara sunnah dan mubah. Adapun ulama madzhab syafi’iyah menghukumi berobat sebagai sesuatu yang sunnah untuk di lakukan oleh seorang hamba yang di uji dengan penyakit berdasarka hadits dari shahabat usamah bin syarik dan hadits “wanita hitam yang berpenyakit ayan”. Adapun ulama madzhab hanafiyah, malikiyah dan hanabilah menghukumi berobat sebagai sesuatu yang mubah untuk di lakukan oleh seorang n kami memandang inilah pendapat yang rojih.

Barangsiapa berobat maka ia tidak berdosa. Tetapi jika ia memiliki niat baik dalam berobat disertai tekad untuk menyempurnakan ketaatan serta lebih giat dalam beribadah dan melaksanakan kewajiban yang di tetapkan oleh Allah maka dia di beri pahala karenanya. Adapun bila dia tidak berobat seraya sabar dan ridho terhadap taqdir Allah dan dalam rangka meraih sesuatu yang lebih afdhol dan derajat tinggi di sisi Allah maka dia di beri pahala atas tidak berobatnya. Wallaahu ta’ala a’lam.

Saudaraku yang ku cintai karena Allah, setelah sedikit pemaparan tentang persoalan berobat ini maka jelaslah bagi kita kuatnya pendapat yang mengatakan bahwa tidak berobat itu lebih riwayat imam bukhori dari shahabat Abdullah ibnu abbas tentang 70ribu muslim yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Sifat oran-orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab itu menurut penjelasan ulama adalah mereka bertawwakal kepada Robb mereka sehingga tidak melakukan sarana-sarana pengobatan. Pendapat ini semakin di kuatkan oleh hadits riwayat bunda aisyah bahwa ketika Rosulullah shalallahu ‘alayhi wa salam sakit dan beliau radhiyallahu ‘anha ingin mengobati beliau ‘alaihy sholatu wa salam dengan metode ladud (metode pengobatan dengan memasukkan obat ke salah satu sisi mulut) namun beliau menolak dengan isyarat “jangan mengobatiku dengan ladud ” kami pun berkata “orang sakit memang tidak suka obat ” ketika siuman, beliau berkata “setiap orang dari kalian pasti pernah diobati dengan ladud, kecuali Abbas, ia tidak hadir bersama.”

Jadi, saudaraku kaum muslimin hendaknya kita belajar bersabar dan ridho. Sikap mudah gelisah yang hari ini mnjangkiti hati kaum muslimin, karena sakit atau takut mati adalah penyakit yang sesungguhnya. Uang miliyaran yang di belanjakan untuk membiayai para dokter dan rumah sakit tanpa manfaat adalah bencana. Anggapan orang bahwa hal itu bisa memperpanjang usianya, bisa lebih menikmati kesenangan lainnya dan “menghidupkan” hidupnya adalah khayalan belaka yang mempermainkan nalar orang-orang yang sedang sakit.

Categories: Tazkiyatun Nufus | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: