MENGOBATI SIHIR DAN GUNA-GUNA


Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga dan sahabatnya.
Dunia sihir dan perdukunan telah dikenal manusia sejak zaman dahulu hingga zaman modern ini. Sihir yang dikenal zaman dahulu tidak jauh berbeda dengan apa yang ada pada zaman sekarang, hanya saja sihir yang ada pada zaman sekarang memiliki kemasan yang lebih variatif dan bersifat komersial. Sebut saja sihir, pelet, santet, guna-guna, tenung, kesurupan, gangguan makhluk halus dan semisalnya.
Al-Qur’an dan as-Sunnah telah menjelaskan akan adanya sihir berikut cara pencegahan dan pengobatannya. Bahkan telah disebutkan dalam sirah nabawiyyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah disihir oleh seorang Yahudi bernama Labid bin al-A’sham, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a kepada Allah Subhana wata’alaa untuk memohon kesembuhan. Itulah cara pengobatan sihir paling tepat yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim, yakni memohon kesembuhan kepada Allah Subhana wata’alaa dengan cara-cara yang disyariatkan. Karena itu, tidaklah patut seorang muslim menggadaikan aqidahnya dan menempuh jalan setan dengan mendatangi para dukun dan antek-anteknya.

Apa itu Sihir?
Berkata Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah: “Sihir adalah buhul, jampi-jampi, dan ucapan yang diucap, tulisan yang ditulis serta diperbuat yang akan berpengaruh di badan, hati, atau akal orang yang tersihir tanpa bersentuhan. Dan sihir memang benar-benar berpengaruh (pada seseorang), diantaranya bias membunuh, membuat sakit, menghalangi suami-istri berhubungan intim, dan diantaranya juga bias menceraikan antara seorang dengan istrinya dan membuat keduanya saling membenci atau saling menyayangi”.

Hukum Sihir dan Mempelajrinya
Sihir termasuk salah satu perbuatan kufur yang diharamkan oleh Allah Subhana wata’alaa dan mempelajarinya adalah perbuatan maksiat yang paling nista. Ia adalah satu dari sepuluh pembatal keislaman. (lihat kitab Nawaqidhul Islam karya Muhammad at-Tamimi)

Hukum Islam bagi tukang sihir
Berkata Ibnu Qadamah al-Maqdisi rahimahullah: “Hukuman bagi tukang sihir adalah dibunuh. Telah diriwayatkan dari Umar, Utsman bin Affan, Ibnu Umar, Hafshah, Jundub bin Abdillah, Jundub bin Ka’ab, Qais bin Sa’ad, Umar bin Abdul Aziz, dan ia adalah pendapatnya Abu Hanifah dan Imam Malik.” Jundub bin Abdilah rahimahullah berkata: “Hukuman bagi tukang sihir adalah tebasan pedang”.

Ciri-ciri orang pintar yang berstatus tukang sihir
Disebutkan oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali rahimahullah dalam kitabnya ash-Sharimul Battar fit Tashaddi Lis Saharatil Asyar hlm 77, bahwa diantara cirri-ciri tukang sihir yang berkamuflase menjadi tabib, orang pintar, paranormal atau yang lainnya, kata beliau diantaranya:
Menanyakan kepada si sakit namanya dan nama ibunya
Mengambil sesuatu yang berhubungan dengan si sakit (seperti: kain, kopyah, handuk, dll)
Terkadang memintanya untuk menyembelih hewan tertentu yang tidak disebut nama Allah. Terkadang mengoleskan darahnya ke bagian tubuh si sakit.
Menulis rajah-rajah (tulisan arab yang terputus-putus, kadang terbalik dan tidak bias dibaca)
Membacakan jampi-jampi yang tidak bias dipahami maknanya
Memerintah si sakit untuk menutup diri dari manusia selama beberapa waktu
Terkadang memerintahkan kepadannya agar tidak menyentuh air selama beberapa waktu, biasanya 40 hari.
Memberikan sesuatu kepada sisakit lalu menyuruhnya agar menguburkannya
Kiat menjaga diri dari sihir
Al-Qur’an telah menjelaskan kepada kita bagaimana seorang muslim membentengi diri dari kejahatan setan yang terkutuk beserta bala tentara dan budak-budaknya dari kalangan tukang sihir. Di antara cara untuk menjaga dari sihir atau guna-guna sebelum terjadinya adalah:
Berlindung kepada Allah Subhana wata’alaa dari kejelekan setan, dan bacaan yang paling afdhal (utama) adalah al-Mu’awwidzatain (Surat al-Falaq dan an-Nas). Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berlindung kepada Allah Subhana wata’alaa dari jin dan ‘ain manusia (pengaruh buruk mata manusia), setelah turun surat al-Falaq dan an-Nas maka beliau meninggalkan yang lainnya. (HR. Tirmidzi:2058; dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 4902)
Banyak beramal shalih, utamanya adalah tauhid kepada Allah Subhana wata’alaa karena ia (tauhid)lah kebaikan yang paling dicintai Allah Subhana wata’alaa, sedangkan hal yang paling dicintai Allah Subhana wata’alaa adalah hal yang paling dibenci setan dan jin-jin jahat.
Memperbanyak membaca al-Qur’an dan dzikir-dzikir serta do’a-do’a yang shahih. Di antaranya adalah:
Membaca Surat al-Ikhalash dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Nas) tiga kali, di pagi dan sore hari. Sesungguhnya ia mencukupi dari segala sesuatu. (HR. Tarmidzi: 2575)
Membaca surat al-Baqarah. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah. (HR. Muslim: 780)
Membaca ayat kursi. Barangsiapa membacanya ketika hendak tidur, Allah akan menjaganya dan setan tidak akan mendekatinya sampai subuh. (Bukhari dalam Shahih-nya secara mu’allaq 2311)
Membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah. Apabila dibaca pada malam hari ia akan mencukupinya dari setan. (HR. Bukhari: 5009)
Dan dzikir-dzikir lainnya, utamanya adalah menetapi dzikir pagi dan sore. Dan kitab yang paling bagus dalam hal ini adalah Hisnul Muslim karya Sa’id bin Wahf al-Qahthani yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Makan tujuh butir kurma afwah. Imam Ibnul Qayyim berkata: “ Yang dimaksud dengan kurma afwah di sini adalah kurma afwah al-madinah, yakni salah satu jenis kurma di kota itu, dikenal sebagai kurma hijaz yang terbaik dari seluruh jenisnya. Bentuknya amat bagus, padat, agak keras dan kuat, namun termasuk kurma yang paling lezat, paling harum, dan paling empuk.” (Thibbun Nabawi hlm. 331)
Cara menghilangkan sihir dan guna-guna
Kalau di atas tadi adalah tindakan preventif bagi seorang muslim, maka pada poin ini bagaimana jika sudah terjadi?
Banyak sekali kasus-kasus orang yang terindikasi kejahatan sihir namun ia tidak tahu apa yang harus diperbuat? Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, ia berusaha untuk menghilangkannya melalui tukang sihir juga. Sihir yang dilawan dengan sihir! Setan dilawan dengan setan! Alangkah girangnya setan jika demikian. Ia telah berhasil membuat percaya kepada orang bahwa dengan bantuan setan dan jin-lah urusan bias selesai.
Inilah jalan yang sesungguhnya, obat syar’I yang manjur:
Pertama: berusaha untuk menemukan sumber dari sihir tersebut (buhul) kemudian menghancurkannya. Inilah cara yang paling efektif, sebagaimana yang terjadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Bukhari: 3095, Muslim: 2189)
Kedua : Dengan cara ruqyah syar’iyyah

Ruqyah syar’iyyah
Yaitu dengan cara membaca ayat-ayat dzikir yang shahih terutama al-Qur’an yang difirmankan Allah Subhana wata’ala :
“ Dan kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS. Al-Isra’[17]: 82)
Diantara ayat-ayat tersebut adalah: surat al-Fatihah, Ayat kursi, al-Mu’awwidzatain dan ayat-ayat yang lafazhnya mengandung kehancuran sihir (seperti dalam surat al-A’raf ayat 118-119, Yunus ayat 81, Thaha ayat 69 dan lain-lain)

Nasihat terakhir
Di penghujung tulisan ini, simaklah baik-baik dan renungkanlah himbauan berikut, karena seolah-olah ia adalah resep keberhasilan dari ruqyah anda!
Sesungguhnya ayat-ayat, dzikir-dzikir dan do’a-do’a di atas betul-betul memiliki pengaruh yang hebat. Akan tetapi, pengaruhnya akan berbeda-beda bukan karena obatnya (ruqyah), melainkan-mungkin-karena telah dicampuri wirid-wirid syirik dan dzikir-dzikir bid’ah yang dibenci Allah, atau terkadang karena lemahnya hati si pasien dan ketidak matapannya terhadap dzikir-dzikir yang syar’I tersebut atau hati yang diwarnai dengan gelapnya maksiat dan terobang-ambingnya dengan kelalaian dan syahwat, maka ia bagaikan busur panah kendur tidak akan lepas anak panahnya kecuali sangat lemah.
Sesungguhnya ruqyah syar’iyyah tidak mesti ditangani orang-orang tertentu. Seseorang bias meruqyah dirinya sendiri atau meruqyah orang lain. Keshahihan dan ketaqwaan seseorang akan sangat berpengaruh terhadap kualitas ruqyahnya.
Orang yang meruqyah hendaknya selalu meniatkan ruqyahnya hanya demi menharapkan wajah Allah subhana wata’ala dan untuk menolong saudaranya, bukan sebagai profesi atau sumber penghasilan. Kemudian ruqyahnya ditempuh dengan jalur yang syar’I, di antaranya apabila yang diruqyah adalah wanita, agar tidak berkhalwat (berdua-duaan) tanpa didampingi mahramnya dan menyuruhnya untuk berhijab.
Sesungguhnya ruqyah apabila dilandasi dengan hal tersebut, akan bermanfaat dengan izin Allah subhana wata’ala. Wallahu a’lam.

Disadur dari: Buletin Al-Furqon Tahun ke-6 volume 12 no. 1

Categories: Do'a | Tags: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: